Sabtu, 08 Mei 2010

Mengapa membaca?

Membaca memberikan wawasan dan pengetahuan yang berguna bagi hidup kita. Seperti fisik yang perlu diberi makanan, demikian juga dengan pikiran kita. Membaca merupakan salah satu makanan terbaik untuk pikiran.

Ada ungkapan, jika kita bertemu dengan seorang teman yang berpisah lama, biasanya perubahan yang terjadi terhadap orang tersebut disebabkan oleh 3 faktor. Pertama, pengalaman hidup yang dilaluinya; kedua, lingkungan sekitarnya; dan terakhir, buku-buku yang dibacanya.
Melalui buku kita dapat menambah pengetahuan tentang suatu bidang ilmu. Melalui
buku kita bisa menjelajahi dunia, termasuk tempat-tempat yang belum pernah kita kunjungi. Melalui buku kita bahkan bisa ‘mengenal’ orang-orang ternama, walaupun kita mungkin belum pernah berjumpa sebelumnya, dan belajar dari pengalaman hidup mereka. Melalui buku kita juga bisa mengetahui banyak hal yang sebelumnya menjadi 'rahasia'. Dan melalui buku kita bisa lebih mengerti hidup ini.

Selain manfaat-manfaat di atas, pembicara ternama, Jim Rohn, bahkan mengatakan bahwa kita dapat menjadi pakar dalam suatu bidang jika kita hanya mau menginvestasikan waktu 1 jam setiap hari selama 5 tahun untuk mempelajari buku-buku mengenai bidang tersebut. Mari kita berhitung sejenak. Setahun 360 hari kerja dikali5 tahun sama dengan 1.800 jam. Siapa pun yang belajar suatu bidang ilmu selama 1.800 jam tentunya sudah pasti menguasainya secara mendalam.

Membaca juga menaikkan kualitas hidup kita ke tingkat lebih tinggi. Membaca menyebabkan terjadinya perubahan cara berpikir, yang tentunya diikuti dengan perubahan kualitas hidup, baik segi fisik, keuangan, karir, mental, sosial, dan bahkan spiritual.

Kita dapat memulai kebiasaan membaca dengan cara membuat komitmen untuk membaca sebuah buku setiap minggu. Dalam setahun ada 52 buku, berarti telah terjadi kemajuan sebesar 52 buku dalam hidup. Bayangkan perubahan positif yang terjadi terhadap hidup kita dengan penambahan pengetahuan dan wawasan 52 buku.

Ada sebuah fakta menarik tentang para pemimpin besar. Mereka semuanya memiliki kesamaan dalam satu hal: kebiasaan membaca secara teratur. Benjamin Franklin, Soekarno, Gandhi, Bill Gates, Barack Obama, Oprah Winfrey, dan Susilo Bambang Yudhoyono merupakan segelintir contoh para pemimpin yang meluangkan waktu di antara kesibukan sehari-hari untuk memberi makanan bagi pikirannya melalui buku-buku bagus. Dan konon katanya Bill Clinton membaca lebih kurang 300 buku selama kuliah hukum di University College, Oxford.

Tokoh yang sangat saya kagumi, pendiri Kyocera Group, seorang filantropis, dan pengarang buku favorit saya A Passion for Succes, Kazuo Inamori, mengatakan dalam bukunya: Your own experiences and those of others that you acquire through reading can provide a spiritual framework to succeed in life. Ternyata, selain pengalaman hidup kita, buku merupakan faktor sangat penting lain dalam membawa keberhasilan dalam hidup.
Jika membaca ternyata memberikan begitu banyak manfaat, mengapa tidak kita lakukan secara kontiniu mulai dari sekarang? Ayo, mari kita lakukan bersama-sama.
Selengkapnya...

Upaya Penigkatan Keterampilan Membaca Pemahaman melalui Teknik Sema

Abstrak. Penelitian Tindakan Kelas ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan membaca pemahaman melalui penerapan teknik skema pada siswa kelas 2 SUP Mataram Kasihan Bantul Penelitian ini dilakukan pada 40 siswa kelas 2 SLTP Negeri Mataram Kasihan Kabupaten Bantul. Data dikumpulkan malalui observasi guru, siswa dan catatan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata sebelum tindakan penelitian sebesar 50%, dan nilai rata-rata sesudah tindakan sebesar 73%. Hal tersebut menunjukkan adanya peningkatan keterampilan membaca pemahaman pada siswa SLTP Mataram Kasihan sebesar 23 %.
PENDAHULUAN
Berbahasa pada dasarnya adalah proses interaktif komunikatif yang menekankan pada aspek-aspek bahasa. Kemampuan memahami aspek-aspek tersebut sangat menentukan keberhasilan dalam proses komunikasi. Aspek-aspek bahasa tersebut antara lain keterampilan menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Secara karakteristik, keempat keterampilan itu berdiri sendiri, namun dalam penggunaan bahasa sebagai proses komunikasi tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa merupakan keterpaduan dari beberapa aspek. Salah satu aspek keterampilan berbahasa yang terdapat dalam GBPP SLTP Kelas 2 adalah keterampilan membaca. Keterampilan membaca selalu ada dalam setiap tema pembelajaran. Hal tersebut membuktikan pentingnya penguasaan keterampilan membaca.
Membaca, terutama membaca pemahaman bukanlah sebuah kegiatan yang pasif. Sebenarnya, pada peringkat yang lebih tinggi, membaca itu, bukan sekedar memahami lambang-lambang tertulis, melainkan pula memahami, menerima, menolak, membandingkan dan meyakini pendapat-pendapat yang ada dalam bacaan. Membaca pemahaman inilah yang dibina dan dikembangkan secara bertahap pada sekolah (Tompubolon: 1987).
Lebih dari itu, Tulalessy (1995) berpendapat bahwa membaca mahir (avented reading) harus mulai diajarkan pada siswa kelas 1 SLTP sehingga siswa SLTP bisa menuju pada membaca di seberang baris (reading beyond the lines).
Pembelajaran membaca pemahaman menggunakan teknik skema merupakan salah satu upaya tepat karena dengan teknik skema siswa harus menghubungkan pengalamannya dengan pengalaman yang ada dalam buku teks.
Menurut Sujana (1995) langkah-langkah pembelajaran menggunakan teknik skema adalah:
1. bersikap positif terhadap apa yang diketahui murid jadikanlah apa yang telah diketahui murid itu sebagai batu loncatan atau jembatan dalam usaha menolong mengembangkan konsep-konsep yang diperlukan,
2. menggunakan analogi, perbandingan, bahkan kalau perlu, perbandingan metaforis untuk menjembatani apa yang telah mereka ketahui dengan hal-hal baru atau asing,
3. memberikan contoh sebanyak-banyaknya mengenai konsep yang baru itu.
4. metaforis untuk menjembatani apa yang telah mereka ketahui dengan hal-hal baru atau asing,
5. memberikan contoh sebanyak-banyaknya mengenai konsep yang baru itu.
Pada kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa keterampilan membaca pemahaman siswa kelas 2 pada SUP Mataram Kasihan Bantulmasih cukup memprihatinkan. Hal tersebut dimungkinkan karena siswa tidak benar-benar memahami bacaan yang disediakan. Melihat kenyataan tersebut di atas, peneliti tertarik untuk meneliti masalah tersebut. Sebagai pemecahannya adalah dengan diterapkannya teknik skema dalam pembelajaran membaca pemahaman. Untuk mengetahui seberapa jauh teknik skema dapat meningkatkan kemampuan siswa memahami teks bacaan, maka perlu diadakan penelitian tindakan.
Untuk memberikan arah penelitian yang jelas dan operasional berdasarkan latar belakang, dapat dirumuskan masalah penelitan ini sebagai berikut: Bagaimanakah upaya meningkatkan keterampilan membaca pemahaman melalui penerapan teknik skema siswa kelas 2 pada SLTP Mataram Kasihan Bantul?
Tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah meningkatkan keterampilan membaca pemahaman dengan menerapkan teknik skema pada siswa kelas 2 SLTP Mataram Kasihan Bantul.
METODE PENELITIAN
Setting Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di kelas 2 SLTP Mataram Kasihan Bantul. Jumlah subyek penelitian adalah 40 siswa kelas 2 pada SLTP tersebut. Karakteristik siswa pada dasarnya hampir sama (homogen). Lokasi sekolah jauh dari pusat kota, dengan latar sosial orang tua siswa rata-rata rendah sehingga berakibat pada rendahnya kemampuan mambaca siswa.
PROSEDUR PENELITIAN
Perencanaan
Sebelum tindakan dilakukan, dibuat perencanaan berikut ini:
1. Mengidentifikasi masalah,
2. Mengadakan tes,
3. Menyiapkan materi bacaan
4. Menyiapkan media,
5. Menyiapkan alat evaluasi.
TINDAKAN PENELITIAN
Penelitian tindakan dilaksanakan dalam 5 tindakan. Adapun langkah-langkah implementasi tindakannya adalah:
1. Guru dan siswa berdiskusi tentang materi yang akan diberikan.
2. Guru memberikan petunjuk yang berupa outline, dan gambar yang ada hubungannya dengan materi bacaan dan skemata siswa
3. Siswa membaca teks bacaan, dilanjutkan menuliskan kata-kata sukar,
4. Siswa mengungkapkan ide pokok setiap paragrap.
5. Siswa menceritakan kembali isi bacaan dengan bahasanya sendiri.
MONITORING DAN REFLEKSI
Monitoring dilaksanakan setiap tatap muka Hasil monitoring dijadikan refleksi setelah tatap muka berlangsung. Dalam refleksi, kolaborator dan pendamping memberi input tentang jalannya penelitian dalam kegiatan belajar mengajar, baik kekurangan maupun keberhasilan yang telah dicapai. Hasil tersebut dianalisis secara deskripti-kualitatif.
Teknik Pengumpulan Data
Pengaumpulan data dilakukan dengan cara:
1. Tes, dilakukan sebelum dan sesudah tindakan dilaksanakan.
2. Observasi, dilaksanakan peneliti dan kolaborator selama KBM berlangsung.
3. Catatan lapangan, untuk mencatat segala kegiatan siswa dan guru selama pembelajaran berlangsung.
HASIL PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan dalam satu sikius. Satu siklus terdiri dari 5 tindakan, dengan 10 kunjungan silang. Adapun hasilnya adalah sebagai benkut:
Tindakan I
a. Guru mengucapkan salam dan memperkenalkan kolaborator kepada siswa.
b. Guru melakukan apersepsi, menuliskan judul bacaan pada papan tulis. Siswa memunculkan kata penyumbang darah, sehat, gemuk, golongan darah dan transfusi. Jawaban siswa ini ditulis guru pada outline yang telah disediakan.
c. Setelah pembelajaran berlangusung setengah jam, guru meminta siswa untuk membaca dalam hati bacaan “Tidak Semua Orang Bisa Jadi Donor Darah”, dilanjutkan menuliskan kata-kata sukar beserta maknanya.
d. Guru menugaskan siswa menuliskan ide pokok pada papan tulis, siswa lain menaggapinya.
e. Sebelum pembelajaran diakhiri, guru menanyakan kepada siswa hal-hal yang belum jelas tentang bacaan. Siswa diberi tugas untuk menceritakan kembali isi bacaan. Pembelajaran ini diakhiri dengan guru mengucapkan salam.
REFLEKSI
Pada awal pembelajaran ini, skemata siswa lambat muncul. Tanggapan siswa tidak sesuai dengan outline yang dituliskan guru pada papan tulis. Peneliti dan kolaborator bersepakat bahwa hal tersebut dimungkinkan dengan belum dioptimalkan media pembelajaran, di samping teknik skemata ini baru pertama dilaksnakan. Untuk itu, pada tindakan pembelajaran selanjutnya media pembelajaran dipersiapkan lebih mantap lagi.
Tindakan II
a. Setelah mengadakan apersepsi, Guru menempelkan judul bacaan pada papan tulis Siswa senang dengan adanya media yang ditempelkan di papan tulis.
b. Guru menawarkan kepada siswa untuk menuliskan jawabannya pada outline di papan tulis. Beberapa siswa maju untuk menuliskan kosa kata pada outline yang disediakan.
c. Guru menugasi siswa membaca bacaan menuliskan kata-kata sukar, kemudian mendiskusikan artinya, beberapa siswa mengartikan dengan bantuan kamus.
d. Kegiatan selanjutnya menugasi siswa untuk menuliskan ide pokok, dan menggabungkan menjadi paragraf yang padu.
e. Sebelum pembelajaran diakhiri, guru memberikan penegasan tentang penggunaan kata hubung.
REFLEKSI
a. Pada pembelajaran ini skematis siswa muncul pada awal pembelajaran. Hal ini dimungkinkan digunakannya media pembelajaran, sehingga siswa senang mengikuti pembelajaran.
b. Penulisan jawaban siswa pada papan tulis, dan pujian yang diberikan guru kepada siswa menjadikan motivasi siswa untuk lebih aktif. Peneliti dan kolaborator sepakat agar guru lebih sering memberikan penghargaan terhadap siswa.
Tindakan III
a. Pembelajaran diawali dengan apersepsi, dilanjutkan menuliskan tujuan pembelajaran dan judul bacaan pada papan tulis.
b. Guru menunjukkan bunga anggrek, dan siswa diminta memberikan tanggapannya. Indri dan Indah serempak memberikan tanggapannya. Siswa yang lain, Novi dan Ayu kemudian menanggapinya. Jawaban siswa ini oleh guru dimasukkan dalam outline yang telah disediakan.
c. Kemudian guru menyuruh siswa untuk membaca bacaan “Holtikultura” selama kurang lebih lima menit.
d. Setelah membaca bacaan, guru dan siswa mencocokkan antara skema siswa dengan out-line bacaan. Hasilnya, banyak persamaan antara skemata siswa dengan outline yang dibuat guru. Dan guru menberikan pujian.
e. Pada kegiatan menentukan ide pokok, guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok sesuai dengan jumlah paragraf. Jawaban tiap kelompok dituliskan di papan tulis. Terjadi diskusi yang menarik pada saat masing-masing kelompok mempertahankan pekerjaannya. Hal ini terjadi karena kelompok yang satu (Indah) tidak menggunakan kata hubung dalam menggabungkan ide pokok, sedangkan kelompok yang lain (Novi) menggabungkan ide pokok dengan bentuk pasif. Dari jawaban guru yang diberikan, ternyata belum sepenuhnya dapat diterima siswa.
f. Sebelum pembelajaran ini diakhiri, guru menerangkan fungsi kata hubung dan kata pasif. Guru memberikan pekerjaan rumah siswa menceritakan kembali.
REFLEKSI
a. Kegiatan pembelajaran dengan menggunakan media dapat membuat suasana kelas hidup dan hal tersebut memunculkan skemata siswa lebih awal.
b. Peneliti dan kolaborator bersepakat bahwa guru agar mempersiapkan pembelajaran dengan sebaik-baiknya. Hal ini akan memungkinkan siswa lebih bersikap positif dan kritis terhadap pembelajaran bahasa Indonesia.
Tindakan IV
a. Pembelajaran ini di awali guru dengan apersepsi, dilanjutkan dengan menuliskan tujuan pembelajaran dan judul bacaan,
b. Guru menggiring keterkaitan skemata siswa dengan topik pembelajaran dengan cara menempelkan slogan mensana in corpora sono.
c. Tanggapan siswa terhadap topik pembelajaran masih banyak yang kurang tepat. Hal ini terlihat dari jawaban siswa yang dimasukkan dalam out-line yang telah disiapkan guru banyak yang meleset.
d. Siswa membaca bacaan dan menuliskan kata sukar.
e. Guru memberikan tugas untuk menuliskan ide pokok siswa-siswa, misalnya Sulitiyangsih dan Dwi Fatmawati dapat menyelesaikan tugas dengan hasil baik.
f. Kegiatan pembelajaran diakhiri dengan tugas siswa menuliskan kembali isi bacaan dengan melihat outline bacaan yang telah dibetulkan guru.
REFLEKSI
a. Peneliti dan kolaborator menyepakati, letak ide pokok mudah dipahami siswa. Hal tersebut dimungkinkan sebagian besar ide pokok bacaan teletak pada awal paragraf.
b. Skemata siswa kurang cocok dengan materi bacaan. Hal tersebut dimungkinkan, teks bacaan yang digunakan untuk kegiatan membaca (tajuk rencana KR) memiliki tingkat kesulitan tinggi. Pada pembelajaran yang akan datang materi bacaan diharapkan yang sesuai dengan usia siswa.
Tindakan V
a. Guru mempersiapkan ruangan laboratorium untuk pembelajaran yang menggunakan media pembelajaran OHP
b. Guru menunjukkan tujuan pembelajaran dan judul bacaan pada layar monitor. Siswa antusias menanggapi judul bacaan “Kiat Jadi Bintang Sinetron”.
c. Beberapa siswa, antara lain: Indah, Ayu, Novi dan Wiwid menanggapi pertanyaan guru. Tanggapan siswa tersebut dituliskan pada out-line yang telah dipersiapkan guru.
d. Siswa membaca bacaan, menuliskan kata-kata sukar. Siswa berebutan maju mengartikan kata sukar di papan tulis. Selanjutnya, siswa ditugasi mencari ide pokok. Indah dan Yeni mewakili kelompoknya maju untuk menuliskan di papan tulis.
e. Dari bacaan tersebut, siswa berlatih membuat petunjuk menjadi bintang sinetron secara kelompok. Petunjuk yang ditulis siswa banyak yang sesuai dengan outline yang dibuat guru.
f. Sewaktu membedakan petunjuk pokok dan petunjuk penjelas, diskusi berlangsung menarik, masing-masing kelompok mempertahankan alasannya. Guru menjelaskan, menguatkan, dan memberi pujian terhadap alasan yang dikemukakan siswa.
g. Sebelum pembelajaran diakhiri, kolaborator dan guru inti berpamitan terhadap siswa. Kegiatan ini oleh siswa diakhiri dengan perasaan senang.
REFLEKSI
a. Peneliti, kolaborator dan pendamping menyimpulkan bahwa pembelajaran sudah sesuai dengan skenario yang direncanakan. Penggunaan media pembelajaran yang tepat, misalnya OHP menjadikan KBM berlangsung dengan susana menarik.
b. Materi pembelajaran yang sesuai dengan pertumbuhan siswa (diambil dari Fantasi) menarik perhatian siswa. Hal tersebut menumbuhkan sikap positif terhadap pembelajaran membaca.
SIMPULAN
Penerapan teknik skema pada pembelajaran keterampilan membaca pemahaman pada siswa kelas 2 SLTP Mataram Kasihan Bantul, dapat meningkatkan membaca pemahaman pada siswa tersebut. Hal ini ditunjukkan dari hasil nilai rata-rata sebelum tindakan sebesar 50% dibandingkan dengan hasil nilai rata-rata sesudah tindakan sebesar 73%, terjadi peningkatan nlai sebesar 23%. Selengkapnya...

Membaca cepat

Membaca cepat adalah kecakapan membaca dan memahami teks dalam tingkatan tinggi.
Rata-rata orang dengan pendidikan setingkat sekolah tinggi membaca sekitar 300 kata per menit, berarti bahan itu tidaklah bersifat teknis. Di sisi lain, pembaca cepat dapat membaca lebih dari 1000 kata per menit.
Pengukuran membaca cepat baru sangat berarti bila digabungkan dengan informasi seberapa tinggi pemahaman teks itu oleh pembacanya. Diketahui bahwa orang dengan kemampuan membaca cepat yang lebih tinggi juga memiliki pemahaman yang lebih tinggi. Malahan yang mengejutkan, seseorang biasanya memperbaiki pemahamannya seiring dengan kemampuan membaca cepatnya.
Ada beberapa faktor yang menghambat membaca cepat:
1. Kosakata yang kurang
2. Regresi - membaca kembali bahan yang sama secara berulang
3. Subvokalisasi - melafalkan kata di pikiran ketika membacanya
4. Persepsi yang salah - bisa karena gerakan mata yang salah atau masa persepsi yang lambat
Kebanyakan pembaca sambil lalu dapat meningkatkan keterampilan membacanya 2-3 kali dengan mempraktekkan membaca cepat. Selengkapnya...

Membaca

Seorang anak lelaki sedang membaca komik Marvel.
Membaca adalah suatu cara untuk mendapatkan informasi dari sesuatu yang ditulis. Membaca melibatkan pengenalan simbol yang menyusun sebuah bahasa. Membaca dan mendengar adalah 2 cara paling umum untuk mendapatkan informasi. Informasi yang didapat dari membaca dapat termasuk hiburan, khususnya saat membaca cerita fiksi atau humor.
Sebagian besar kegiatan membaca sebagian besar dilakukan dari kertas. Batu atau kapur di sebuah papan tulis bisa juga dibaca. Tampilan komputer dapat pula dibaca.
Membaca dapat menjadi sesuatu yang dilakukan sendiri maupun dibaca keras-keras. Hal ini dapat menguntungkan pendengar lain, yang juga bisa membangun konsentrasi kita sendiri. Selengkapnya...

BUDAYA MEMBACA CABUT RASA TAKUT KEBEBASAN

Menulis sangat mudah sebagaimana beberapa buku tentang penulisan yang memberi motivasi, sebenarnya mengasumsikan suatu keadaan dimana masyarakat telah hidup dalam budaya membaca. Membaca adalah kebutuhan pokok. Pendidikan lebih cenderung didekati dengan pendekatan pendidikan orang dewasa (andragogi), selain pendekatan pedagogi yang berlangsung saat ini. Sehingga, penekanan yang sering muncul adalah budayakan membaca; sebagai syarat yang sangat penting untuk mudah menulis. Budaya membaca inilah yang menjadi tantangan dalam penerapan isi buku-buku tentang motivasi menulis tersebut, yang perlu didengungkan dan didorong tumbuh berkembangnya budaya membaca.
Berdasarkan beberapa hasil riset sebagaimana diungkapkan Dr. Stephen D. Krashen bahwa kita belajar menulis lewat membaca, yang menunjukkan betapa pentingnya mambaca dalam memudahkan untuk menulis, karena membaca merupakan perbuatan menulis di otak. Hal ini juga tergambar dalam bukunya Jean-Paul Sartre, Kata-Kata (2000), dimana membaca sudah dibudayakan oleh keluarganya, terlebih kakeknya yang selalu memberikan berbagai buku dan tulisan, sehingga saat pertama menulis Sartre merasa sebagai plagiat karena banyak tulisan yang mengendap di otak dari hasil bacaan yang membudaya.
Budaya membaca para pendidik (dosen/guru) tentu sudah seharusnya telah berkembang, sebagai kelompok masyarakat yang senang membaca dan menjadi kebutuhan, sehingga dapat menularkan pada anak didiknya. Sudah seharusnya, kelompok masyarakat yang berprofesi sebagai pendidik ini sudah berada dalam budaya membaca, sehingga kegiatan membaca sudah menjadi habit sebagaimana setiap hari melakukan kegiatan mengajar. Buku-buku yang memotivasi menulis menjadi penting dibaca oleh kalangan pendidik dan peserta didik, yang tidak perlu (harus) diikuti adalah gaya penulisannya. Melalui buku-buku motivasi penulisan tersebut, sangat jelas tergambar bagaimana pentingnya budaya membaca, yang menjadi syarat penting dan utama dalam menjadikan kegiatan menulis sebagai kebiasaan (habit) sebagaimana didefinisikan Stephen Covey sebagai titik pertemuan antara pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), dan keinginan (desire).
Harapan mempunyai kemampuan menulis sangat mudah, tidak serta merta dapat diperoleh hanya dengan membaca buku-buku tentang menulis, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana sebab-sebab yang diuraikan dalam buku tersebut hingga bisa menulis sangat mudah yang perlu menjadi perhatian dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Melakukan perbuatan berdasarkan harapan (raja’) lebih tinggi kedudukannya daripada perbuatan berdasarkan takut (khauf), sebagaimana Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin ungkapkan, yang menegaskan bahwa sebab-sebab yang menguatkan kepada harapan tersebut harus dijaga dan dijalani, karena bila sebab-sebab tersebut hilang maka harapan tersebut tidak ubahnya sebuah angan-angan belaka. Tentu saja sebab-sebab yang menguatkan harapan dalam mudah menulis adalah budaya membaca, yang harus dijaga dan dijalani sebagai budaya.
Membangun kesadaran tentang potensi diri, sebagaimana gagasan Paulo Freire tentang pendidikan yang benar-benar membebaskan, yang mencabut parasit adanya perasaan takut kebebasan (fear of freedom) dalam masyarakat, juga merujuk pada budaya membaca. Jika budaya membaca tidak ada, maka sistem pendidikan apapun akan menjadikan orang terjebak pada sikap fanatik dan tertanam dalam bangunan yang menindas tapi tidak mau keluar karena takut keruntuhannya. Sehingga, perasaan takut kebebasan (fear of freedom) masih menjadi penghambat yang laten, yang memang sangat sulit untuk didobrak.
Jadi, menulis sangat mudah merupakan pernyataan yang benar namun bergantung pada syarat penting akan budaya membaca. Kemudahan dalam menulis merupakan suatu proses yang panjang dan kerja keras, yang diikuti oleh berkembangnya budaya membaca pada diri seseorang. Banyak orang yang setelah membaca buku tentang motivasi menulis langsung tercerahkan, dan berpikiran bahwa menulis itu memang mudah, sebagaimana mudahnya membaca buku tersebut, tetapi tanpa melihat apa yang menjadi sebab kemudahan itu hanya membuat orang terbuai. Sudah seharusnya profesional pendidik (dosen/guru) untuk terlibat mendobrak tembok perasaan takut kebebasan dalam masyarakat, dengan mendorong tumbuh dan berkembangnya budaya membaca. Selengkapnya...

Membaca Sebagai Bagian Pembelajaran Bahasa

Meskipun dewasa ini ada puluhan teknik pengajaran bahasa dilontarkan dan dikenalkan oleh para pakar pendidikan dan pengajaran bahasa, tampaknya elemen dasar pendidikan bahasa secara tradisional tetap tidak dapat dibuang begitu saja. Elemen dasar seperti mendengarkan, berbicara, membaca, menulis dan seringkali juga menerjemahkan, tetap menjadi bagian tidak terpisahkan dalam teknik pengajaran bahasa yang mana saja.
Para guru, instruktur, dosen, dan bahkan guru besar boleh saja menggunakan pendekatan dan teknik terbaru dalam pengajaran bahasa, tetapi tetap saja pengenalan kata, frase, klausa, kalimat, paragraf dan kemudian wacana tidak dapat melepaskan diri dari elemen dasar dan pendekatan tradisional di atas. Begitu juga dengan penilaian yang akan dilakukan untuk menentukan keberhasilan sebuah teknik pembelajaran. Pada dasarnya penilaian yang dilakukan pun tidak dapat dilepaskan dari penilaian empat (atau bahkan lima) faktor di atas.
Bagaimana sebuah pendekatan dapat dikatakan berhasil dan berdaya guna kalau unjuk kerja siswa (atau mahasiswa) yang menggunakan pendekatan tersebut tidak mencerminkan kemampuan dasar dalam ranah kegiatan mendengarkan, berbicara, membaca, menulis?
Berikut ini akan dibicarakan salah satu aspek elemen dasar kegiatan pembelajaran bahasa, khususnya yang berhubungan dengan kegiatan membaca, yaitu aspek mekanis kegiatan dan kemampuan membaca. Diharapkan dengan mengenal aspek ini, para instruktur dan tenaga pengajar bahasa pada semua tingkatan dapat mengambil manfaatnya untuk lebih mengoptimalkan usaha mereka dalam membantu seseorang belajar bahasa.
Aspek Mekanis Membaca
Lou E. Burmeister (1978), seorang pakar pendidikan bahasa Universitas Texas di El Paso, dalam Improving Speed of Comprehension in Reading mengawali uraiannya tentang Aspek Mekanis Membaca dengan melontarkan beberapa pertanyaan. Bagaimana mata seseorang bergerak ketika mereka membaca? Apakah mata tersebut bergerak dengan lembut, seperti ketika mengawasi seekor burung yang sedang terbang atau menyaksikan pesawat terbang yang sedang mendarat? Atau apakah mata bergerak, berhenti, bergerak, berhenti lagi, bergerak lagi dan berhenti lagi?
Penelitian dalam ranah ini jelas menarik bagi para ilmuwan pendidikan yang banyak berhubungan dengan masalah penelitian akademis, sedangkan hasilnya diperkirakan banyak menarik minat para instruktur pengajaran bahasa yang lebih banyak berkiprah dalam ranah yang jauh lebih bersifat praktikal.
Salah satu metodologi yang digunakan untuk meneliti pergerakan mata, yang menurut penggagasnya dapat dilakukan oleh siapa saja dan kapan saja dalam kelas pengajaran bahasa, adalah dengan meminta salah seorang memperhatikan mata seseorang ketika dia sedang membaca. Apakah mata si pembaca bergerak dengan lembut? Jika mata tersebut bergerak dengan lembut, maka dapat dipastikan bahwa dia tidak sedang membaca, kata Lou E. Burmeister.
Lebih jauh pakar pendidikan ini mengatakan bahwa dalam kenyataannya, tentu saja berdasarkan hasil penelitiannya selama bertahun-tahun, kata (atau kata-kata) hanya dapat dibaca apabila mata tidak bergerak. Hanya apabila mata berhenti bergerak, atau terpusat pada satu bagian dari kata, pada satu kata, atau pada satu frase, maka barulah si pembaca mendapatkan apa yang dinamakan citra visual. Berikutnya, jika memang dikehendaki mata akan bergerak untuk kemudian berhenti lagi jika si pembaca ingin mendapatkan citra visual yang lain. Atau dengan kata lain, dalam membaca mata seorang pembaca haruslah berhenti, bergerak, berhenti lagi, bergerak lagi, dan seterusnya, jika dia menginginkan memahami apa yang dibacanya.
Dalam keadaan sebenarnya, khususnya ketika seseorang membaca secara berkelanjutan dan bukannya hanya satu kata saja, proses berhenti dan bergerak ini mungkin memerlukan waktu tidak lebih dari seperenam detik. George D. Spathe (1962) dalam Is This a Breakthrough in Reading? menyatakan bahwa lebar rentang jarak yang diperlukan sepasang mata dalam membaca tidak dapat melebihi tiga kata, atau dengan kata lain seorang pembaca yang paling cepat sekali pun, berdasarkan hasil penelitian ini, tidak akan mampu membaca lebih banyak dari tiga kata dalam satu periode tertentu sebelum dia menggerakkan kembali matanya menuju ke kelompok kata yang lain.
Dengan memahami kenyataan sederhana ini, yang semakin lama cenderung semakin dilupakan oleh para pengajar bahasa, diharapkan para pengajar dapat bersikap lebih arif jika mereka menggunakan sarana bacaan untuk mengajar murid-muridnya.
Setelah membaca tiga kata, mata pembaca harus bergerak pada kumpulan tiga kata berikutnya. Pergerakan inilah yang oleh para pakar pendidikan bahasa dinamakan saccadic sweep, sebuah pergerakan yang membutuhkan waktu paling cepat sekitar 1/30 detik. Waktu ini hanya dapat dilakukan oleh seorang pembaca yang baik dan tentunya waktu ini akan bertambah jika dilakukan oleh pembaca yang kurang baik.
Jadi, jika hasil kedua penelitian ini digabungkan, akan didapatkan bahwa jumlah waktu total yang dibutuhkan oleh seorang pembaca yang baik untuk membaca tiga buah kata dan kemudian berpindah pada kelompok tiga kata berikutnya adalah seperenam detik ditambah sepertiga puluh detik atau sama dengan seperlima detik. Atau dengan kata lain, dalam satu detik, seorang pembaca yang baik diperkirakan mampu membaca sekitar 15 kata, atau sekitar 900 kata dalam satu menitnya. Sebuah angka yang fantastis, bukan?
Tetapi dalam kenyataannya kemudian terbukti bahwa angka ini sulit sekali dicapai jika diingat bahwa kalimat-kalimat dalam satu bacaan tidak selalu berkelompok tiga-tiga, sehingga seorang pembaca harus melakukan gerakan saccadic sweep lebih banyak lagi untuk satu baris dan ini bermakna mengurangi jumlah kata yang mampu dibaca seseorang dalam satu menit.
Penutup
Belajar bahasa membutuhkan banyak faktor yang saling terkait dan saling mempengaruhi satu sama lainnya. Beberapa faktor tersebut seperti ketekunan dan kesabaran, di samping tentu saja kesempatan untuk terus menerus menggunakan bahasa yang dipelajari merupakan faktor yang amat sangat menentukan keberhasilan seseorang dalam belajar bahasa. Tentu saja faktor-faktor yang lain seperti tersedianya materi yang memadai, instruktur yang cakap dan berdedikasi, serta motivasi yang cukup tinggi dari mereka yang belajar juga perlu diperhitungkan. Pemahaman terhadap salah satu elemen dasar dalam belajar bahasa, yaitu membaca, khususnya pemahaman aspek-aspek teknis dan kendala-kendalanya memang tidak menjamin bahwa sebuah program pengajaran bahasa akan berhasil dengan baik. Tetapi dengan sedikit memahami aspek-aspek teknis semacam ini, para pembelajar dan khususnya para pengajar, diharapkan akan lebih mampu menyempurnakan proses belajar-mengajar yang akan membawa mereka ke tujuan akhir yang diharapkan! Selengkapnya...

Agar Anak Gemar Membaca

Buku adalah jendela ilmu, tentu semua orang setuju dengan ungkapan tersebut. Tetapi banyak orangtua yang mengeluhkan anak-anaknya malas membaca. Menurut penelitian, ketika anak naik kelas lebih tinggi, minatnya untuk membaca akan berkurang. Hal ini disebabkan aktivitas mereka mulai meningkat dan waktu untuk bergaul atau bermain dirasa lebih menarik dibanding membaca buku. Nah, untuk membuatnya gemar membaca buku, ikuti saran berikut :
- Sejak usia dini, biasakan untuk membacakan cerita pada si kecil, hal ini bisa meningkatkan kemampuannya membaca dan menulis lebih awal.
- Ada masanya anak-anak akan malas membaca, ini terutama ketika mereka melewati masa peralihan, misalnya dari SD masuk ke SMP. Biarkan hal ini berlalu secara alami, jangan memaksanya untuk membaca. Untuk menarik minatnya, biarkan mereka membaca apa saja yang disukainya, termasuk komik. Yang terpenting mereka tetap membaca.
- Ketika anak memasuki usia remaja, kesibukannya akan meningkat. Mungkin ia tidak punya waktu lagi untuk membaca satu buku, sebagai gantinya biarkan mereka membaca artikel di majalah atau tulisan lain yang lebih cepat selesai dibaca.
- Saat si kecil akan naik ke kelas 2 adalah waktu yang paling tepat untuk mengetahui kemampuannya membaca. Jika si kecil ternyata memiliki kesulitan membaca, ajaklah ia menemui terapis untuk mendapatkan bantuan.
- Kelas 3 dan 4 adalah masa paling krusial untuk keberhasilan akademisnya. Jika si kecil tidak memiliki kemampuan membaca, bisa jadi ia akan tertinggal. Temukan minat dan kesukaan si kecil pada topik tertentu untuk menarik minatnya membaca.
- Tanamkan kebiasaan membaca di keluarga. Jika sejak dini anak-anak sudah terbiasa melihat kedua orangtuanya membaca, otomatis minat tersebut akan muncul pada dirinya.
- Berikan buku sebagai hadiah dan ajak si kecil menabung untuk membeli sebuah buku, tidak harus yang mahal, sesekali ajak anak-anak mendatangi pameran buku yang memberi harga diskon.
- Biasakan meletakkan bacaan di sekitar rumah, atau di dalam mobil. Biarkan si kecil melihat bahwa membaca adalah kegiatan yang menyenangkan dan berguna.
- Ajak anak-anak berdiskusi tentang buku yang mereka baca, biarkan mereka merasa seperti ahli dan Anda seperti orang yang membutuhkan banyak informasi. Selengkapnya...